Kamis, 25 Februari 2016

Puisi Kontemporer

Berbagai Tema dan Ciri Puisi Kontemporer beserta Contohnya

- Makna Puisi itu sendiri adalah goresan kata – kata yang dialami, dirasakan, atau dilihat oleh seorang penyair ke dalam sebuah bentuk tulisan yang memiliki nilai estetika tinggi. Seperti pada bentuk karya sastra lainnya yang terpengaruh oleh jaman, puisi juga ikut berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Akibatnya, pada tahun 1980-an lahirlah sebuah puisi baru, yaitu puisi kontemporer (Namun, jenisnya lebih sedikit dari pada Puisi Baru sekarang)

Puisi kontemporer adalah puisi yang berusaha keluar dari bentuk atau aturan baku puisi itu sendiri. Dengan kata lain, puisi ini tidak lagi mengandalkan kekuatan kata dan makna, tetapi juga menitik beratkan pada tampilan bentuk dan eksistensi bunyi.

Ciri – Ciri Puisi Kontemporer
1. Bentuk penataan dan pemilihan kata tidak beraturan
2. Berupa kelakar yang biasanya ada maksud tersembunyi di dalamnya, seperti kritik
3. Makna puisi tidak lagi dianggap penting karena yang paling penting adalah penampilannya
4. Memanfaatkan bunyi kata secara maksimal

Jenis – jenis puisi kontemporer
Puisi kontemporer dibagi menjadi beberapa bentuk puisi, diantaranya adalah Puisi Mbeling, Puisi Mantra, dan Puisi Konkret.

1. Puisi Mbeling

Puisi mbeling adalah puisi yang tidak mengikuti aturan baku dalam pembuatan puisi. Bentuk puisi ini menekankan pada unsur kelakar dan humornya. Salah satu tokoh penggagas puisi ini adalah Yudistira Adi Nugroho dengan puisinya yang berjudul Sajak Sikat Gigi.

Puisi ini biasanya berupa ejekan atau kritikan kepada pemerintah, masyarakat, atau pun penyair lain yang terlalu kaku pada aturan baku puisi.

2. Puisi Mantra

Puisi mantra adalah bentuk puisi yang  berupa bentuk – bentuk kata yang tidak beraturan atau bahkan tidak memiliki makna. Puisi ini dipopulerkan oleh Hamid Jabbar dengan karyanya yang berjudul Wajah Kit. (Di dalam puisi kontemporer, mantra tetap termasuk)

3. Puisi Konkret

Bentuk puisi ini lebih mengutamakan tampilan grafis atau penulisan puisi tersebut, sehingga adakalanya puisi ini ditulis dengan membentuk wajah seorang manusia. Salah satu tokoh terkenal dari puisi ini adalah F Rahardi dengan karyanya yang berjudul Soempah WTS.

Advertisement


Berbagai Tema Puisi Kontemporer dan Contohnya

1. Protes

Puisi dengan tema protes ditujukan untuk memprotes kepincangan – kepincangan sosial yang terjadi di masyarakat.

Contoh :

Lapar

Lapar Lapar Lapar Lapar
Di sana lapar
Di sini lapar
Di situ lapar
Di mana – mana lapar

Pemerintah pemerintah pemerintah
Di mana pemerintah
Pemerintah di mana
Dimana dimana dimana
Dimana pemerintah

2. Tema Humanisme

Puisi dengan tema humanisme menceritakan tentang kehidupan manusia.

Contoh :

Mati

Aku mati
Kamu mati
Dia mati
Mereka mati
Kita mati
Kami mati
Semuanya mati
Tidak ada yang bisa lali dari mati
Bahkan mati pun bisa mati
Karena mati adalah mati

3. Tema Religius

Puisi dengan tema religius mengangkat tema keagamaan. Biasanya puisi ini mengungkapkan tentang hubungan – hubungan antar manusia dengan tuhannya, atau tuhan dengan manusia.

Contoh :

Doa

Doooa Dooooa Doooooa
Doa doa doa doa doa doa doa
Mari berdoa, berdoa mari,
Jangan lupa berdoa
doa jangan lupa
mari berdoa

berdoa mari
kepada yang maha kuasa
hidup tenang dengan doa
Doa tenang dengan hidup
Dooooa Doooooa Doooooa
Doa doa doa doa doa doa doa

4. Tema Kritik

Puisi dengan bertema kritik ini mengungkapkan kritik tentang kejadian yang terjadi di masyarakat. Contohnya, kritik terhadap tindakan kesewenangan pemerintah, pejabat – pejabat korupsi, dan lain – lain.

Contoh

Korupsi

Si tikus minta dipilih oleh rakyat
Si tikus masuk ke rumah rakyat
Si tikus mulai duduk di atas rakyat
Si tikus mulai melihat mangsa
Si tikus mulai mendekati mangsa
Si tikus mengambil mangsa

Si tikus tidak tahu malu
Si tikus tidak mau tahu
Karena Si tikus Cuma Tikus
Makhluk yang rakus

Maaf jika salah. Semoga bermanfaat.

Puisi Lama

♡ Puisi Lama ♡

Dalam khasanah sastra Indonesia, Pengertian Puisi Lama adalah puisi yang terikat dengan rima, atau jumlah baris yang kemudian padat makna. Rima sendiri merupakan bunyi akhiran yang tersusun. Untuk Pantun misalnya biasanya memiliki rima AB, AB dan memiliki jumlah baris yaitu empat. Adapun contoh puisi lama beserta jenis - jenisnya dapat anda pelajari di bawah ini.

Aturan  Puisi Lama:

  • Terikat dengan jumlah baris, apakah 2, 4 atau lebih
  • Terikat dengan jumlah suku kata
  • Terikat dengan rima
  • Terikat aturan jumlah baris pada satu bait
  • Terikat dengan irama

Ciri - Ciri Puisi Lama:

  • Puisi kerakyatan yang biasanya tidak dikenal siapa pengarangnya atau anonim
  • Tidak seperti puisi baru, puisi lama tersebar secara lisan sehingga masuk kedalam jenis sastra lisan.
  • Tidak sebebas puisi baru yang sering mengabaikan aturan - aturan, puisi lama terikat pada aturan - aturan seperti persajakan, jumlah suku kata dan lain - lain.


Macam - Macam Puisi Lama:

1. Pantun
Pantun merupakan puisi lama yang memiliki jumlah baris 4 dan terdiri dari 2 baris pertama sampiran dan dua baris terakhir isi.
Ciri - Ciri Pantun :
Memiliki empat baris
Memiliki rima atau persajakan abab
Jumlah suku kata tiap baris adalah 8-12
Dua baris pertama adalah sampiran dan dua baris kedua adalah isi

Contoh Pantun

Jika ada mawar di padang
Kupetik ditengah malam
Wahai putri berwajah terang
Cintamu Membuatku Tenggelam

2. Mantra adalah puisi atau syair yang dipercaya memiliki kekuatan ghaib.

Ciri - ciri:

  • Memiliki rima abc abc, abcde, abcde
  • Dipercaya memiliki kekuatan ghaib
  • Bersifat misterius
  • Adanya metafora
  • Adanya perulangan
  • Bersifat Esoferik


Contoh :
Manunggaling Kawula Gusti
Ya Murubing Bumi
Sirku Sir Sang Hyang Widi
Kinasih kang asih


3. Karmina merupakan puisi lama yang terdiri dari dua baris dan memiliki rima aa atau bb
 
Ciri - ciri :

  • Terdiri dari dua baris
  • Memiliki rima AA, atau BB
  • Tema bersifat epik atau kepahlawanan
  • Tidak ada sampiran melainkan semuanya adalah isi
  • Setiap frasa ditandai dengan koma dan diakhiri dengan titik


Contoh :
Lukamu adalah lukaku, Ditahan di Dalam Kalbu
Tetaplah maju, meski tak tahu yang dituju

4. Seloka
Seloka hampir mirip dengan pantun namun memiliki rima yang berbeda. Dalam hal ini, jumlah baris seloka seringkali lebih dari 4.

contoh :
Nafas Kambing di Padang Senja
Dibawa gerobak buntung
Sungguh indah pandangan syurga
Wahai engkau wanita berkerudung


5. Gurindam
Gurindam adalah  puisi yang  lama yang berisikan 2 baris tap bait, bersajak atau memiliki rima a-a-a-a,sementara isinya nasihat

Contoh gurindam :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )

 6. Syair
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita
Contoh :

Ciri-ciri syair
Ø Terdiri dari 4 baris
Ø Berirama aaaa
Ø Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair

Contoh :

Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

7. Talibun
Talibun adalah sejenis pantun namun memiliki jumlah baris yang genap seperti 6, 8, 10 dst.

Ciri-ciri:

  • Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya. 
  •  Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
  • Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi. 
  • Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c. 
  • Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

Contoh :
Jauh dimata Jangan di Pandang
Jauh Dihati jangan di Sakiti
Jauh DI badan jangan di sentuh
Kalau dosa terus di tambang
Walau mati itu pasti
Tanda hatimu rapuh

Semoga bermanfaat. Maaf salah.

Puisi Baru

Sehubung postingan yang sebelumnya, muncul pertanyaan baru terkait Puisi Baru dan Puisi Lama.
Jadi, akan saya bagi 2 postingan.

♡ Puisi Baru ♡

Puisi baru tidak sama dengan puisi lama. Isi, bentuk, irama, dan bentuk persajakanyang terdapat dalam Puisi puisi lama sudah berubah pada puisi baru. Terutama mengenai isi pada puisi baru, isinya pun dilukiskan dalam bahasa yang bebas dan lincah.

• Berdasarkan jumlah baris dalam kalimat pada setiap baitnya (Soneta), puisi baru dibagi
dalam beberapa bentuk puisi, yaitu:
a. Sajak dua seuntai atau distikon
b. Sajak tiga seuntai atau terzina
c. Sajak empat seuntai atau quatrain
d. Sajak lima seuntai atau quint
e. Sajak enam seuntai atau sektet
f. Sajak tujuh seuntai atau septima
g. Sajak delapan seuntai atau oktaf atau stanza   (note:penjelasan ada di bawah)

• Berdasarkan isi yang terkandung di dalamnya. Bentuk-bentuk puisi baru yang dibagi berdasarkan isi yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut.
1. Ode, yaitu sajak yang berisikan tentang puji-pujian pada pahlwan, atau sesuatu yang dianggap mulia.
2. Himne, yaitu puisi atau sajak pujian kepada Tuhan yang Mahakuasa. Himne disebut juga sajak Ketuhanan.
3. Elegi, yaitu puisi atau sajak duka nestapa.
4. Epigram, yaitu puisi atau sajak yang mengandung bisikan hidup yang baik dan benar, mengandung ajaran nasihat dan pendidikan agama.
5. Satire, yaitu sajak atau puisi yang mengecam, mengejek, menyindir dengan kasar (sarkasme) kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.
6. Romance, yaitu sajak atau puisi yang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta kasih kepada lawan jenis, bangsa dan negara, kedamaian,dan sebagainya.
7. Balada, yaitu puisi atau sajak yang berbentuk cerita.
(Sama seperti postingan saya sebelumnya, jika mengikuti.)

Selain bentuk-bentuk puisi di atas, pada puisi baru juga terdapat satu bentuk puisi yang lain, yaitu Soneta.

Penjelasan:
a. Distikon (Distichon)
    Distikon adalah sajak yang terdiri atas dua baris kalimat dalam setiap baitnya, bersajak a-a.
Contoh:
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)

b. Terzina            
     Terzina atau sajak tiga seuntai, artinya setiap baitnya terdiri atas tiga buah kalimat. Terzina dapat bersajak a-a-a; a-a-b; a-b-c; atau a-b-b.
contoh:
BAGAIMANA
Kadang-kadang aku benci
Bahkan sampai aku maki
........ diriku sendiri
Seperti aku
menjadi seteru
........ diriku sendiri
Waktu itu
Aku ........
seperti seorang lain dari diriku
Aku tak puas
sebab itu aku menjadi buas
menjadi buas dan panas
(Or. Mandank)

c. Quatrain
     Quatrain adalah sajak empat seuntai yang setiap baitnya terdiri atas empat buah kalimat. Quatrain bersajak a-b-a-b, a-a-a-a, atau a-a-b-b.
contoh:
MENDATANG-DATANG JUA
Mendatang-datang jua
Kenangan lama lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

d. Quint
     Quint adalah sajak atau puisi yang terdiri atas lima baris kalimat dalam setiap baitnya. Quint bersajak a-a-a-a-a.
contoh:
HANYA KEPADA TUAN
Satu-satu perasaan
Yang saya rasakan
Hanya dapat saya katakan
kepada Tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya rasakan
Hanya dapat saya kisahkan
kepada Tuan
Yang pernah di resah gelisahkan
Satu-satu desiran
Yang saya dengarkan
Hanya dapat saya syairkan
kepada Tuan
Yang pernah mendengarkan desiran
Satu-satu kenyataan
Yang saya didustakan
Hanya dapat saya nyatakan
kepada Tuan
Yang enggan merasakan
(Or. Mandank)

e. Sektet (Sextet)
     Sektet adalah sajak atau puisi enam seuntai, artinya terdiri atas enam buah kalimat dalam setiap baitnya. Sektet mempunyai persajakan yang tidak beraturan. Dalam sektet, pengarangnya bebas menyatakan perasaannya tanpa menghiraukan persajakan atau rima bunyi.
Contoh:
MERINDUKAN BAGIA
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Alam seperti dalam samadhi
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)

f. Septima
    Septima adalah sajak tujuh seuntai yang setiap baitnya terdiri atas tujuh buah kalimat. Sama halnya dengan sektet, persajakan septima tidak berurutan.
Contoh:
API UNGGUN
Diam tenang kami memandang
Api unggun menyala riang
Menjilat meloncat menari riang
Berkilat-kilat bersinar terang
Nyala api nampaknya curai
Hanya satu cita dicapai
Alam nan tinggi, sunyi, sepi
(Intojo)

g. Stanza
     Stanza adalah sajak delapan seuntai yang setiap baitnya terdiri atas delapan buah kalimat. Stanza disebut juga oktaf. Persajakan stanza atau oktaf tidak berurutan.
Contoh:
PERTANYAAN ANAK KECIL
Hai kayu-kayu dan daun-daunan!
Mengapakah kamu bersenang-senang?
Tertawa-tawa bersuka-sukaan?
Oleh angin dan tenang, serang?
Adakah angin tertawa dengan kami?
Bercerita bagus menyenangkan kami?
Aku tidak mengerti kesukaan kamu!
Mengapa kamu tertawa-tawa?
Hai kumbang bernyanyi-nyanyi!
Apakah yang kamu nyanyi-nyanyikan?
Bunga-bungaan kau penuhkan bunyi!
Apakah yang kamu bunyi-bunyikan?
Bungakah itu atau madukah?
Apakah? Mengapakah? Bagaimanakah?
Mengapakah kamu tertawa-tawa?
(Mr. Dajoh)

h. Soneta
     Soneta berasal dari kata Sonetto dalam bahasa Italia yang terbentuk dari kata latin Sono yang berarti ‘bunyi’ atau ‘suara’. Adapun syarat-syarat soneta (bentuknya yang asli) adalah sebagai berikut.
• Jumlah baris ada 14 buah.
• Keempat belas baris terdiri atas 2 buah quatrain dan 2 buah terzina.
• Jadi pembagian bait itu: 2 × 4 dan 2 × 3.
• Kedua buah kuatrain merupakan kesatuan yang disebut stanza atau oktaf.
• Kedua buah terzina merupakan kesatuan, disebut sextet.
• Octav berisi lukisan alam; jadi sifatnya objektif.
• Sextet berisi curahan, jawaban, atau kesimpulan sesuatu yang dilukiskan dalam oktaf; jadi sifatnya subjektif.
• Peralihan dari oktaf ke sektet disebut volta.
• Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 dan 14 suku kata.
• Rumus dan sajaknya a-b-b-a, a-b-b-a, c-d-c, d-c-d.

● Namun, lama kelamaan para pujangga tidak mengikuti syarat-syarat di atas.
Pembagian atas bait-bait, rumus sajak serta hubungan isinya pun mengalami perubahan. Yang tetap dipatuhinya hanyalah jumlah baris yang 14 buah itu saja. Bahkan terkadang jumlah yang 14 baris dirasa tak cukup oleh pengarang untuk mencurahkan angan-angannya. Itulah sebabnya lalu ditambah beberapa baris menurut kehendak pengarang. Tambahan itu disebut Cauda yang berarti ekor. Karena itu, kini kita jumpai beberapa kemungkinan bagan. Soneta Shakespeare, misalnya mempunyai bagan sendiri mengenai soneta-soneta gubahannya,
yakni:
Pembagian baitnya : 3 × 4 dan 1 × 2.
Sajaknya : a-b-a-b, c-d-c-d, e-f-e-f, g-g.

Demikian pula pujangga lain, termasuk pujangga soneta Indonesia mempunyai
cara pembagian bait serta rumus-rumus sajaknya sendiri.

Contoh:
GEMBALA
Perasaan siapa ta’kan nyala (a)
Melihat anak berlagu dendang (b)
Seorang saja di tengah padang (b)
Tiada berbaju buka kepala (a)
Beginilah nasib anak gembala (a)
Berteduh di bawah kayu nan rindang (b)
Semenjak pagi meninggalkan kandang (b)
Pulang ke rumah di senja kala (a)
Jauh sedikit sesayup sampai (a)
Terdengar olehku bunyi serunai (a)
Melagukan alam nan molek permai (a)
Wahai gembala di segara hijau (c)
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau (c)
Maulah aku menurutkan dikau (c)
(Muhammad Yamin, SH.)

Puisi yang Baik

Info penting yang suka merakit puisi!

Langkah-langkah dalam membuat puisi yang baik:

1. Tentukan gaya dan tipe puisi
A. Puisi epik, yakni suatu puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah. Puisi epik dibedakan menjadi folk epic, yakni jika nilai akhir puisi itu untuk dinyanyikan, dan literary epic, yakni jika nilai akhir puisi itu untuk dibaca, dipahami, dan diresapi maknanya.

B. Puisi naratif, yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, menjadi pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. Jenis puisi yang termasuk dalam jenis puisi naratif ini adalah balada yang dibedakan menjadi folk ballad dan literary ballad. Ini adalah ragam puisi yang berkisah tentang kehidupan manusia dengan segala macam sifat pengasihnya, kecemburuan, kedengkian, ketakutan, kepedihan, dan keriangannya. Jenis puisi lain yang termasuk dalam puisi naratif adalah poetic tale, yaitu puisi yang berisi dongeng-dongeng rakyat.

C. Puisi lirik, yakni puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya. Jenis puisi lirik umumnya paling banyak terdapat dalam khazanah sastra modern di Indonesia. Misalnya, dalam puisi-puisi Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain.

D. Puisi dramatik, yakni salah satu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu. Dalam puisi dramatik dapat saja penyair berkisah tentang dirinya atau orang lain yang diwakilinya lewat monolog.

D. Puisi didaktik, yakni puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya ditampilkan secara eksplisit.

E. Puisi satirik, yaitu puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat.
Romance, yakni puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih.
Elegi, yakni puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih dan kedukaan seseorang.
Ode, yakni puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan.

F. Hymne, yakni puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.


2. Tentukan Tema dan Judul.
Penentuan Tema adalah langkah-langkah dalam membuat puisi selanjutnya. Tema pokok persoalan yang akan dikemukakan dalam puisi. Tema adalah pokok pembahasan yang mendasari puisi. Untuk mendapatkan tema, kita bisa memancingnya dengan menggunakan pertanyaan, Puisi ini membicarakan tentang apa? Apakah tentang keindahan alam, kecantikan seseorang, protes sosial, dan lain-lain. Pilihlah satu tema yang kita inginkan sebagai acuan dalam membuat puisi agar puisi kita lebih menarik. Tema puisi banyak sekali. Jadi, sebisa mungkin pilihlah tema yang benar-benar menarik. Setelah menentukan tema langkah selanjutnya menentukan judul yang berpacu pada tema. Tema puisi tersebar begitu banyak di sekitar kita. Kita tinggal mengamati dan menajamkan kepekaan. Seorang penulis puisi yang peka, ia tidak akan kehabisan akal untuk menemukan sebuah tema.


3. Gunakan Gaya Bahasa
Langkah-langkah dalam menulis puisi yang baik selanjutnya adalah dengan menggunakan gaya bahasa, salah satunya adalah majas. Tidak perlu mengenal jenis-jenis majas secara keseluruhan. Beberapa majas saja sudah bisa membuat puisi Anda indah, seperti yang ada di bawah ini:

A. Asosiasi (contoh: bagai disambara petir, bagai teriris sembilu)

B. Personifikasi (contoh: air mengamuk, hujan menyerbu)

C. Hiperbola (contoh: setinggi langit, tinggal kulit pembungkus tulang)

D. Litotes (contoh: bantuan yang tak berarti ini, terimalah walau tak seberapa)

E. Ironi (contoh: peduli sekali dia, sehingga tak satu rupiahpun dikeluarkan untuk membantu)

F. Metafora, yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya, misalnya, “cemara pun gugur daun” mengungkapkan makna “ketidakabadian kehidupan”.

G. Metonimia, yakni pengungkapan dengan menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang, benda, atau sesuatu yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu. Misalnya, “Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu”. “Kuntum bunga” di situ mewakili makna tentang remaja yang sedang tumbuh untuk mencapai cita-cita hidupnya.

H. Anafora, yakni pengulangan kata atau frase pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan bahasa.

I. Oksimoron, yaitu majas yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan. Misalnya: kita mesti berpisah. Sebab sudah terlampau lama bercinta.


4. Aspek yang Diperhatikan Saat Menulis Puisi
A. Bait, yakni satuan yang lebih besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya. Dalam puisi, keberadaan bait sebagai kumpulan larik tidaklah mutlak. Bait-bait dalam puisi dapat diibaratkan sebagai suatu paragraf karangan yang paragraf atau baitnya telah mengandung pokok-pokok pikiran tertentu.

B. Rima, menyangkut pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan.

C. Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana, serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu, selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral.


5. Kembangkan Puisi Seindah Mungkin.
Langkah-langkah dalam membuat puisi yang baik selanjutnya adalah mengembangkan semua langkah diatas menjadi puisi yang indah. Susun kata-kata, larik-larik puisi menjadi bait-bait. Kembangkan menjadi satu puisi yang utuh dan bermakna.  Ingat puisi bukanlah artikel. Tulisan yang kita buat untuk puisi harus ringkas padat sekaligus indah. Pilihlah kata yang sesuai yang mewakili unsur keindahan sekaligus makna yang padat.

Mungkin kita harus mengingat tiga hal tersebut yang berkaitan dengan kata dan larik dalam menulis puisi yaitu:


  • Kata adalah satuan rangkaian bunyi yang ritmis atau indah, atau yang merdu.
  • Makna kata bisa menimbulkan banyak tafsir.
  • Mengandung imajinasi mendalam tentang hal yang dibicarakan.

Minggu, 07 Februari 2016

Tata Cara Penulisan Dialog

Cara Menulis Dialog dalam Cerpen

Berikut ini akan saya sampaikan cara penulisan dialog yang paling banyak dilanggar karena ketidaktahuan penulis pemula.
Diingat baik-baik ya... 

PERATURAN PERTAMA
Setiap dialog selalu masuk ke alinea baru
Kecuali dialog yang dipotong sedikit, lalu dilanjutkan

------"Mau kemana?" tanyaku. (alinea baru)
------"Mau tahu aja, itu urusanku," jawabnya. (alinea baru)
------"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku." (alinea baru - sambungannya tidak)

Perhatikan dialog (petik pertama) pada baris pertama dan kedua masuk alinea baru sekalipun halamannya masih muat. Petik keempat pada baris tiga tidak masuk alinea baru karena dialognya masih lanjutan dari petik sebelumnya hanya dijeda sedikit narasi.

PERATURAN KEDUA
Huruf pertama nempel (tanpa spasi) dengan kutip buka dan tanda baca/ huruf terakhir nempel dengan kutip tutup.
"Mau ke mana?" = benar
" Mau ke mana ?" = salah (ada spasi)

PERATURAN KETIGA
Huruf besar di awal dialog.
Kalimat di awal dialog sekalipun di awal petik dianggap sebagai awal kalimat jadi huruf besar.
"Mau ke mana?" = benar
"mau ke mana?" = salah (huruf pertama)

Kecuali kalau kalimatnya dijeda, maka kalimat pada petik berikutnya dianggap sebagai kalimat lanjutan jadi huruf kecil.

Contoh yang benar (jangannya huruf kecil)
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku."

- kata jangan adalah lanjutan dari kalimat sebelumnya jadi huruf kecil saja.
karena kalau tidak dijeda kalimatnya:

"Tapi keselamatanmu juga urusanku, jangan tinggalkan aku," sanggahku sambil menangis.

Contoh yang salah (jangan-nya huruf kecil) 
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "Jangan tinggalkan aku". 
(sekalipun beberapa penerbit tetap melakukan ini tergantung kebijakan)

PERATURAN KEEMPAT
Titik, koma, tanda tanya tada seru, pada akhir kalimat ada di dalam petik bukan di luar petik dan menempel pada tanda petik penutup.

Akhir kalimat dalam petik yang diakhiri dengan titik atau koma, maka tanda baca tersebut ada di dalam petik menempel dengan petik terakhir bukan di luar petik

Contoh yang benar
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku." (titiknya di dalam petik)
Contoh yang salah 
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku". (titiknya di luar petik)

PERATURAN KELIMA
Titik dipakai kalau dialog berhenti tanpa keterangan narasi
jika dengan narasi pakai koma.
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "Jangan tinggalkan aku." (pakai titik)
"Tapi keselamatanmu juga urusanku, jangan tinggalkan aku," sanggahku sambil menangis. (pakai koma)

PERATURAN KEENAM
Kalau diawali narasi sebelum dialog dikasih koma dulu menempel pada huruf terakhir kalimat narasi lalu spasi lalu petik buka
Aku bertanya padanya, "Kamu mau ke mana?"
Dia menjawab, "Tidak kemana-mana."

Selanjutnya, saya akan memberikan informasi lain.

Cara memberi tanda baca pada dialog

Tips pertama! Kita wajib mengetahui hal-hal dasar, yaitu:
1. Beri tanda baca pada kalimat yang berakhir dengan kata-kata dialog. 
Saat menulis dialog, hal terpenting yang perlu Anda ingat adalah bahwa Anda harus meletakkan dialog itu di dalam kerangka tanda kutip dan menutupnya dengan sebuah tanda koma di dalam kutipan itu jika Anda akan menambahkan kata-kata tertentu yang menunjukkan pembicaranya. Menggunakan tanda koma yang diikuti dengan tanda kutip penutup, lalu dilanjutkan dengan sebuah kata kerja serta kata ganti atau nama orang yang berbicara (atau dengan urutan sebaliknya: nama atau kata ganti kemudian kata kerja), merupakan cara yang paling umum untuk memberi tanda baca pada sebuah dialog. Berikut ini adalah beberapa contoh:


  • “Aku ingin membaca buku saja sambil berbaring di ranjang sepanjang hari,” Mary berkata.
  • “Aku sangat ingin melakukannya, tetapi sayangnya aku harus pergi bekerja,” Tom berkata.
  • “Kamu bisa beristirahat selama akhir pekan nanti,” ujar Mary.




2. Beri tanda baca pada kalimat yang diawali dengan kata-kata dialog. 

Saat Anda memulai sebuah kalimat dengan kata-kata yang menunjukkan dialog, aturan yang sama tetap berlaku. Perbedaannya hanyalah, kini Anda menggunakan kata kerja dan kata ganti atau nama pembicara di awal kalimat, kemudian diikuti dengan sebuah tanda koma, tanda kutip pembuka, isi dialog, tanda titik atau tanda baca penutup lainnya, lalu tanda kutip penutup. Berikut ini adalah beberapa contohnya:

  • Mary berkata, “Kupikir aku akan makan cupcake saja untuk sarapan.”
  • Tom berkata, “Apakah menurutmu itu adalah pilihan yang paling sehat?”
  • Ia menjawab, “Tentu saja bukan. Tapi justru itulah yang membuatku sangat tergoda.”




3. Beri tanda baca pada kalimat yang memiliki kata-kata dialog di tengah-tengahnya.
Cara lain untuk memberi tanda baca pada sebuah dialog adalah dengan menempatkan kata-kata yang menunjukkan adanya dialog itu di tengah-tengah kalimat. Ini akan menciptakan suatu jeda sementara Anda melanjutkan kalimat itu. Untuk malakukan hal ini, Anda harus memberi tanda baca di bagian pertama dialog sama seperti biasanya, namun kini Anda tidak memberikan tanda titik atau tanda baca penutup, melainkan Anda memberi tanda koma untuk melanjutkan pada bagian kedua dari dialog itu. Hal yang perlu Anda ingat adalah jangan memulai bagian dialog yang kedua ini dengan huruf besar, karena ia adalah bagian dari kalimat yang sama. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Aku ingin berlari,” Mary berkata, “tetapi aku lebih suka duduk-duduk saja di kursi goyang ini.”
  • “Ada beberapa hal yang lebih menarik lagi daripada duduk-duduk di kursi goyang,” kata Tom, “tetapi kadang berlari adalah satu-satunya hal yang perlu kamu lakukan.”
  • “Aku tidak perlu berlari…” Mary menjawab, “sama seperti aku tidak perlu ada kerikil di dalam sepatuku.”




4. Beri tanda baca pada kalimat-kalimat yang memiliki kata-kata dialog di antara dua kalimat dialog. 
Salah satu cara untuk memberi tanda baca pada dialog adalah dengan menandai salah satu kalimat seperti biasa, dengan memberi tanda titik di akhir, lalu memulai kalimat baru tanpa menunjukkan pembicaranya sama sekali. Menurut konteksnya, seharusnya akan tampak jelas bahwa pembicaranya adalah orang yang sama. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Murid baru di sekolah tadi kelihatannya baik,” Mary berkata. “Aku ingin berkenalan lebih jauh dengannya.”
  • “Menurutku dia kelihatan agak sombong dan tidak ramah,” jawab Tom. “Kamu baik juga, mau berteman dengannya.”
  • “Aku tidak tahu,” kata Mary. “Aku hanya suka memberi kesempatan saja kepada orang lain. Kamu perlu melakukannya juga kadang-kadang.”

5. Beri tanda baca pada dialog yang tidak mencantumkan kata-kata dialog. 
Banyak dialog yang sama sekali tidak membutuhkan kata-kata tertentu yang menunjukkan adanya dialog. Dari konteksnya, akan tampak jelas siapa pembicaranya. Anda juga dapat menyebutkan kata ganti atau nama orang tersebut setelah kalimat yang diucapkannya, agar lebih jelas lagi. Jangan membiarkan pembaca mencari-cari di setiap baris, atau kembali lagi membaca bagian sebelumnya untuk menemukan siapa yang sedang berbicara dalam percakapan antara dua orang berbentuk dialog tak bernama itu. Demikian pula, jangan berulang-ulang menuliskan “ia berkata” setiap kali ada kalimat yang diucapkan. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Menurutku hubungan ini tidak bisa dilanjutkan lagi.” Mary bermain-main dengan pulpennya.
  • Tom menunduk memandangi lantai yang dipijaknya. “Mengapa kamu berkata begitu?”
  • “Aku berkata begitu karena aku merasakannya. Hubungan ini tidak akan berhasil, Tom. Bagaimana mungkin kamu tidak bisa melihatnya?”
  • “Mungkin memang aku sudah buta.”

Tips kedua! Jika kita menggunakan tanda baca lainnya, maka pengaturannya seperti di bawah ini:
1. Memberi tanda tanya. 
Untuk memberikan tanda tanya pada sebuah dialog, tempatkan tanda tanya sebelum tanda kutip penutup, sebagai pengganti dari tanda titik yang biasanya Anda gunakan. Hal yang patut diwaspadai adalah, walaupun terlihat aneh, Anda harus tetap menggunakan huruf kecil saat menuliskan kata-kata dialog (misalnya, “berkata” atau “menjawab”), karena sebenarnya secara teknis ini masih merupakan bagian dari satu kalimat yang sama. Sebagai alternatif, Anda dapat meletakkan kata-kata yang menunjukkan adanya dialog ini di bagian awal kalimat atau justru tidak menggunakannya sama sekali. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Mengapa kamu tidak datang ke pesta ulang tahunku?” Mary bertanya.
  • Tom menjawab, “Kupikir kita sudah putus. Bukannya kita sudah putus?”
  • “Sejak kapan putus menjadi alasan yang tepat untuk tidak datang ke pesta seseorang?”
  • “Memangnya ada alasan yang lebih tepat lagi?” kata Tom.

2. Memberi tanda seru.
Untuk memberikan tanda seru pada sebuah dialog, lakukan aturan yang sama seperti saat Anda menggunakan tanda titik atau tanda tanya. Kebanyakan penulis akan berkata bahwa tanda seru perlu sangat dihindari, dan bahwa kalimat dan cerita itu sendiri akan menunjukkan semangat tanpa perlu ditambah dengan tanda seru. Namun tetap saja, kadang penggunaan tanda seru tidak ada ruginya. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Aku sudah tak sabar menantikan musim panas berakhir dan kita bisa kembali bersekolah!” kata Mary.
  • “Aku juga!” kata Tom. “Aku sudah bosan sekali di rumah.”
  • Mary menjawab, “Apalagi aku! Aku sudah memiliki tiga jenis koleksi semut dalam sebulan ini saja.”

3. Memberi tanda kutip di dalam dialog. 
Cara ini agak sulit dan tidak akan terlalu sering Anda gunakan, tetapi tetap berguna untuk Anda pelajari. Beri satu tanda kutip saja di awal dan akhir dari suatu frasa yang merupakan judul karya seni atau kutipan dari seseorang. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Cerita Hemingway yang paling kusukai adalah ‘Hills Like White Elephants,’” Mary berkata.
  • “Bukannya guru Bahasa Inggris kita sering menyebutnya sebagai ‘cerita paling membosankan di seluruh dunia’?” tanya Tom.

NB:
Ingat pedoman penulisan huruf kapital pada dialog, berbeda dengan penulisan kalimat.
Contoh:
  • Dialog: "Apa aku yang bersalah?" tanyaku. 
  • Kalimat: Apa Aku yang bersalah? Pertanyaan ini tidak kunjung terjawab.
  • Dialog: "Kamu jahat!" umpatku.
  • Kalimat: Ya Allah! Pintaku tidaklah banyak.
  • Dialog: "Kamu cantik sekali." Ujarku.
  • Kalimat: Keindahan alam di Pantai Losari sangat memanjakan mata. Ditambah pasirnya yang...
  • Dialog: "Kamu cantik sekali," ujarku.
  • Kalimat: Ah, perempuan tua itu berjalan mendekati Aku.
Sekian dariku. Semoga bermanfaat.

Kamis, 04 Februari 2016

Huruf Kapital, Miring, dan Tebal

Huruf Kapital

1.Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Dia membaca buku.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.
2.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
Orang itu menasihati anaknya, "Berhati-hatilah, Nak!"
"Kemarin engkau terlambat," katanya.
"Besok pagi," kata Ibu, "dia akan berangkat."
3.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
IslamQuran
KristenAlkitab
HinduWeda
Allah
Yang Mahakuasa
Yang Maha Pengasih
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim
b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Pada tahun ini dia pergi naik haji.
Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.
5.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Gubernur Jawa Tengah
b.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.
Misalnya:
Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.
Sidang itu dipimpin Presiden.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen.
c.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.
Misalnya:
Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?
Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.
Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.
6.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere
Catatan:
(1)Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada devan, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).
Misalnya:
J.J de Hollander
J.P. van Bruggen
H. van der Giessen
Otto von Bismarck
Vasco da Gama
(2)Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.
Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Ibrahim bin Adham
Siti Fatimah binti Salim
Zaitun binti Zainal
b.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
pascal secondPas
J/K atau JK-1joule per Kelvin
NNewton
c.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
mesin diesel
10 volt
ampere
7.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Eskimo
suku Sunda
bahasa Indonesia
b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
8.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.
Misalnya:
tahun Hijriahtarikh Masehi
bulanAgustusbulan Maulid
hari Jumathari Galungan
hari Lebaranhari Natal
b.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.
Misalnya:
Perang Candu
Perang Dunia I
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
c.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri geografi.
Misalnya:
BanyuwangiAsiaTenggara
CirebonAmerikaSerikat
EropaJawa Barat
b.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.
Misalnya:
Bukit BarisanDanau Toba
Dataran Tinggi DiengGunung Semeru
Jalan DiponegoroJazirah Arab
Ngarai SianokLembah Baliem
Selat LombokPegununganJayawijaya
Sungai MusiTanjung Harapan
Teluk BenggalaTerusan Suez
c.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.
Misalnya:
ukiran JeparapempekPalembang
tari Melayusarung Mandar
asinan Bogorsate Mak Ajad
d.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.
Misalnya:
berlayar ke telukmandi di sungai
menyeberangiselatberenang di danau
e.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.
Misalnya:
nangka belanda
kunci inggris
petai cina
pisang ambon
10.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Departemen Keuangan
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak
b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.
Misalnya:
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menjadi sebuah republik
menurut undang-undang yang berlaku
Catatan:
Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.
Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.
Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.
11.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan
12.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti dikedaridanyang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
13.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Misalnya:
Dr.doktor
S.E.sarjana ekonomi
S.H.sarjana hukum
S.S.sarjana sastra
S.Kp.sarjana keperawatan
M.A.master of arts
M.Hum.magister humaniora
Prof.profesor
K.H.kiai haji
Tn.tuan
Ny.nyonya
Sdr.saudara
Catatan:
Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.
14.a.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapakibusaudarakakak,adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"
Besok Paman akan datang.
Surat Saudara sudah saya terima.
"Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.
"Silakan duduk, Dik!" kata orang itu.
b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.
15.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Surat Anda telah kami terima dengan baik.
16.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada I BI CI E, dan II F15).

Huruf Miring

1.Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
Saya belum pernah membaca buku Negarakertagama karangan Prapanca.
Majalah Bahasa dan Sastra diterbitkan oleh Pusat Bahasa.
Berita itu muncul dalam surat kabar Suara Merdeka.
Catatan:
Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.
2.Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
Huruf pertama kata abad adalah a.
Dia bukan menipu, melainkan ditipu.
Bab ini tidak membicarakan pemakaian huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan berlepas tangan.
3.a.Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.
Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Orang tua harus bersikap tut wuri handayani terhadap anak.
Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.
Weltanschauung dipadankan dengan 'pandangan dunia'.
b.Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan sebagai kata Indonesia.
Misalnya:
Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.
Korps diplomatik memperoleh perlakuan khusus.
Catatan:
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring digarisbawahi.

Huruf Tebal

1.Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.
Misalnya:
Judul :HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
Bab :BAB I PENDAHULUAN
Bagian bab :1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Tujuan
Daftar, indeks, dan lampiran:
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMBANG
DAFTAR PUSTAKA
INDEKS
LAMPIRAN
2.Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring.
Misalnya:
Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.
Saya tidak mengambil bukumu.
Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.
Seharusnya ditulis dengan huruf miring:
Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.
Saya tidak mengambil bukumu.
Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.
3.Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi.
Misalnya:
kalah v 1 tidak menang ...; 2 kehilangan atau merugi ...; 3 tidak lulus ...; 4 tidak menyamai
mengalah v mengaku kalah
mengalahkan v 1 menjadikan kalah ...; 2 menaklukkan ...; 3 menganggap kalah ...
terkalahkan v dapat dikalahkan ...
Catatan:
Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dicetak 
dengan huruf tebal diberi garis bawah ganda.

Sumber: 
https://id.m.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan

Pages - Menu

Life

Berdoa pada Allah. Percaya pada diri sendiri. Hancurkan dan Remukan rintangannya. Tersenyum dengan bangga diakhir perjuangan.