Rabu, 03 Februari 2016

Kunci Diamond Maut

          "Kak, bukankah kau sudah berjanji akan selalu mendampingku? Aku selalu menunggumu. Tapi, kenapa kau pergi meninggalkanku?" kesedihanku memuncak. Orang yang kusayangi, satu-satu pergi meninggalkanku.
          "Tuhan, apakah Engkau mendengarkanku? Kenapa Engkau kumpulkan Ayah, Ibu, dan Kakak di sana? Sedangkan Engkau biarkan Aku seorang diri di sini." Tangisku pecah. Tinggallah Aku seorang diri di tengah keramaian orang-orang yang tidak kukenal tanpa keluargaku.
          "Dik, sudahlah. Tidak baik bersedih terlalu berlebihan. Allah mungkin lebih menyayanginya, makanya Dia mengambil mereka dari sisimu." Tutur seorang wanita yang berusaha menenangkanku. Aku tidak begitu mengenalnya. Kurasa Dia tetanggaku yang tinggal di sekitar sini.
          Aku langsung bangkit meninggalkan keramaian seusai menguburkan jenazah kakakku. Tetangga di sini memang baik, mengingat mendiang Ayahku juga baik kepada mereka. Selain itu, Ayah juga seorang mayor jendral. Sudah sepantasnya mereka menghormati keluargaku.
          "Aih... Baju hitam ini membuatku merasa gerah." Sambil mengganti baju, Aku meraih kotak kecil yang kuambil dari kamar mendiang kakakku tempo hari. Rasa puas terpancar dari raut wajahku.
          "Seharusnya, kunci ini sudah lama menjadi milikku. Namun, Si Pengacau itu merusak segalanya." Gumamku pada diriku sendiri. Acting-ku benar-benar bagus tadi. "Maafkan Aku, Kak. Jika kamu tidak mengacau, Aku mungkin tidak akan meracunimu. Tapi, tidak seharusnya kamu mati secepat ini. Aku masih ingin bermain-main denganmu sebentar lagi. Ya, sudahlah. Meskipun kamu mati, itu tak masalah buatku."
          Aku segera bergegas menuju ruang bawah tanah. Ruangan dimana tempat Ayah menyimpan harta berharganya. Sewaktu Aku kecil, Ayah mengatakan jika Aku besar nanti ruangan ini akan menjadi milikku. Namun sebelum kecelakaan menelan nyawa Ayah dan Ibukku, Ayah malah memberikan Kunci Diamond kepada Kakakku. Semua ini tidak adil. Tapi, kunci itu sekarang sudah berada di tanganku. Kakak yang kalian banggakan sudah pergi menyusul kalian ke sana.
          Debu dan kegelapan menyambut ketika Aku membuka pintu ruangan itu. Kuraba dinding untuk menemukan saklar listrik. Lampunya ternyata lumayan terang. Sontak Aku dikejutkan dengan isi ruangan itu.
          "Apa ini?" kuperhatikan foto-foto yang terpampang di dinding. Berjejer juga beberapa kotak yang tersusun rapi. Rasa ingin tahu menggelitik hatiku. Akankah ini harta yang Ayah simpan?
          Air mataku seketika menetes. Ya, air mata asli dari hatiku. Dunia seakan meruntuh. Hanya kata 'terlambat' yang Aku dapatkan. Kini Aku tahu arti yang sesungguhnya dari sebuah kata penyesalan. Penyesalan yang selalu datang belakangan. Aku berlari ke kamarku. Tidak sanggup membayangkan apa yang telah terjadi. Ayah memang benar. Sudah semestinya jikalau kunci itu dipegang oleh Kakak.
          "Maafkan Aku, Ayah. Aku telah salah menafsirkan harta. Hartaku ialah keluargaku. Seperti ayah yang menganggap kami sebagai hartamu." rutukku atas kesalahanku. Keserakahan telah melenyapkan nuraniku. Barang-barang kenangan kami, itulah harga bagi Ayah. Seharusnya, Aku juga menjadikan itu harta bagiku.
          Aku meronggoh botol kecil berisi racun yang kupakai untuk membunuh kakakku. Kuteguk hingga tidak ada sedikit pun yang tersisa. Maafkan Aku, Tuhan. Yang terpikir olehku saat ini hanyalah ingin cepat-cepat menemui Kakak dan minta maaf padanya. Walau itu mustahil, tapi Aku tidak mungkin hidup sendiri setelah ketidakadilan menimpanya. Biarlah dosa penyesalan ini kutanggung selamanya.


Nb:
There's nothing I can say about myself . I just wanna say, think before doing . Sebelum penyesalan datang menghampirimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages - Menu

Life

Berdoa pada Allah. Percaya pada diri sendiri. Hancurkan dan Remukan rintangannya. Tersenyum dengan bangga diakhir perjuangan.