Minggu, 07 Februari 2016

Tata Cara Penulisan Dialog

Cara Menulis Dialog dalam Cerpen

Berikut ini akan saya sampaikan cara penulisan dialog yang paling banyak dilanggar karena ketidaktahuan penulis pemula.
Diingat baik-baik ya... 

PERATURAN PERTAMA
Setiap dialog selalu masuk ke alinea baru
Kecuali dialog yang dipotong sedikit, lalu dilanjutkan

------"Mau kemana?" tanyaku. (alinea baru)
------"Mau tahu aja, itu urusanku," jawabnya. (alinea baru)
------"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku." (alinea baru - sambungannya tidak)

Perhatikan dialog (petik pertama) pada baris pertama dan kedua masuk alinea baru sekalipun halamannya masih muat. Petik keempat pada baris tiga tidak masuk alinea baru karena dialognya masih lanjutan dari petik sebelumnya hanya dijeda sedikit narasi.

PERATURAN KEDUA
Huruf pertama nempel (tanpa spasi) dengan kutip buka dan tanda baca/ huruf terakhir nempel dengan kutip tutup.
"Mau ke mana?" = benar
" Mau ke mana ?" = salah (ada spasi)

PERATURAN KETIGA
Huruf besar di awal dialog.
Kalimat di awal dialog sekalipun di awal petik dianggap sebagai awal kalimat jadi huruf besar.
"Mau ke mana?" = benar
"mau ke mana?" = salah (huruf pertama)

Kecuali kalau kalimatnya dijeda, maka kalimat pada petik berikutnya dianggap sebagai kalimat lanjutan jadi huruf kecil.

Contoh yang benar (jangannya huruf kecil)
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku."

- kata jangan adalah lanjutan dari kalimat sebelumnya jadi huruf kecil saja.
karena kalau tidak dijeda kalimatnya:

"Tapi keselamatanmu juga urusanku, jangan tinggalkan aku," sanggahku sambil menangis.

Contoh yang salah (jangan-nya huruf kecil) 
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "Jangan tinggalkan aku". 
(sekalipun beberapa penerbit tetap melakukan ini tergantung kebijakan)

PERATURAN KEEMPAT
Titik, koma, tanda tanya tada seru, pada akhir kalimat ada di dalam petik bukan di luar petik dan menempel pada tanda petik penutup.

Akhir kalimat dalam petik yang diakhiri dengan titik atau koma, maka tanda baca tersebut ada di dalam petik menempel dengan petik terakhir bukan di luar petik

Contoh yang benar
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku." (titiknya di dalam petik)
Contoh yang salah 
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku". (titiknya di luar petik)

PERATURAN KELIMA
Titik dipakai kalau dialog berhenti tanpa keterangan narasi
jika dengan narasi pakai koma.
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "Jangan tinggalkan aku." (pakai titik)
"Tapi keselamatanmu juga urusanku, jangan tinggalkan aku," sanggahku sambil menangis. (pakai koma)

PERATURAN KEENAM
Kalau diawali narasi sebelum dialog dikasih koma dulu menempel pada huruf terakhir kalimat narasi lalu spasi lalu petik buka
Aku bertanya padanya, "Kamu mau ke mana?"
Dia menjawab, "Tidak kemana-mana."

Selanjutnya, saya akan memberikan informasi lain.

Cara memberi tanda baca pada dialog

Tips pertama! Kita wajib mengetahui hal-hal dasar, yaitu:
1. Beri tanda baca pada kalimat yang berakhir dengan kata-kata dialog. 
Saat menulis dialog, hal terpenting yang perlu Anda ingat adalah bahwa Anda harus meletakkan dialog itu di dalam kerangka tanda kutip dan menutupnya dengan sebuah tanda koma di dalam kutipan itu jika Anda akan menambahkan kata-kata tertentu yang menunjukkan pembicaranya. Menggunakan tanda koma yang diikuti dengan tanda kutip penutup, lalu dilanjutkan dengan sebuah kata kerja serta kata ganti atau nama orang yang berbicara (atau dengan urutan sebaliknya: nama atau kata ganti kemudian kata kerja), merupakan cara yang paling umum untuk memberi tanda baca pada sebuah dialog. Berikut ini adalah beberapa contoh:


  • “Aku ingin membaca buku saja sambil berbaring di ranjang sepanjang hari,” Mary berkata.
  • “Aku sangat ingin melakukannya, tetapi sayangnya aku harus pergi bekerja,” Tom berkata.
  • “Kamu bisa beristirahat selama akhir pekan nanti,” ujar Mary.




2. Beri tanda baca pada kalimat yang diawali dengan kata-kata dialog. 

Saat Anda memulai sebuah kalimat dengan kata-kata yang menunjukkan dialog, aturan yang sama tetap berlaku. Perbedaannya hanyalah, kini Anda menggunakan kata kerja dan kata ganti atau nama pembicara di awal kalimat, kemudian diikuti dengan sebuah tanda koma, tanda kutip pembuka, isi dialog, tanda titik atau tanda baca penutup lainnya, lalu tanda kutip penutup. Berikut ini adalah beberapa contohnya:

  • Mary berkata, “Kupikir aku akan makan cupcake saja untuk sarapan.”
  • Tom berkata, “Apakah menurutmu itu adalah pilihan yang paling sehat?”
  • Ia menjawab, “Tentu saja bukan. Tapi justru itulah yang membuatku sangat tergoda.”




3. Beri tanda baca pada kalimat yang memiliki kata-kata dialog di tengah-tengahnya.
Cara lain untuk memberi tanda baca pada sebuah dialog adalah dengan menempatkan kata-kata yang menunjukkan adanya dialog itu di tengah-tengah kalimat. Ini akan menciptakan suatu jeda sementara Anda melanjutkan kalimat itu. Untuk malakukan hal ini, Anda harus memberi tanda baca di bagian pertama dialog sama seperti biasanya, namun kini Anda tidak memberikan tanda titik atau tanda baca penutup, melainkan Anda memberi tanda koma untuk melanjutkan pada bagian kedua dari dialog itu. Hal yang perlu Anda ingat adalah jangan memulai bagian dialog yang kedua ini dengan huruf besar, karena ia adalah bagian dari kalimat yang sama. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Aku ingin berlari,” Mary berkata, “tetapi aku lebih suka duduk-duduk saja di kursi goyang ini.”
  • “Ada beberapa hal yang lebih menarik lagi daripada duduk-duduk di kursi goyang,” kata Tom, “tetapi kadang berlari adalah satu-satunya hal yang perlu kamu lakukan.”
  • “Aku tidak perlu berlari…” Mary menjawab, “sama seperti aku tidak perlu ada kerikil di dalam sepatuku.”




4. Beri tanda baca pada kalimat-kalimat yang memiliki kata-kata dialog di antara dua kalimat dialog. 
Salah satu cara untuk memberi tanda baca pada dialog adalah dengan menandai salah satu kalimat seperti biasa, dengan memberi tanda titik di akhir, lalu memulai kalimat baru tanpa menunjukkan pembicaranya sama sekali. Menurut konteksnya, seharusnya akan tampak jelas bahwa pembicaranya adalah orang yang sama. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Murid baru di sekolah tadi kelihatannya baik,” Mary berkata. “Aku ingin berkenalan lebih jauh dengannya.”
  • “Menurutku dia kelihatan agak sombong dan tidak ramah,” jawab Tom. “Kamu baik juga, mau berteman dengannya.”
  • “Aku tidak tahu,” kata Mary. “Aku hanya suka memberi kesempatan saja kepada orang lain. Kamu perlu melakukannya juga kadang-kadang.”

5. Beri tanda baca pada dialog yang tidak mencantumkan kata-kata dialog. 
Banyak dialog yang sama sekali tidak membutuhkan kata-kata tertentu yang menunjukkan adanya dialog. Dari konteksnya, akan tampak jelas siapa pembicaranya. Anda juga dapat menyebutkan kata ganti atau nama orang tersebut setelah kalimat yang diucapkannya, agar lebih jelas lagi. Jangan membiarkan pembaca mencari-cari di setiap baris, atau kembali lagi membaca bagian sebelumnya untuk menemukan siapa yang sedang berbicara dalam percakapan antara dua orang berbentuk dialog tak bernama itu. Demikian pula, jangan berulang-ulang menuliskan “ia berkata” setiap kali ada kalimat yang diucapkan. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Menurutku hubungan ini tidak bisa dilanjutkan lagi.” Mary bermain-main dengan pulpennya.
  • Tom menunduk memandangi lantai yang dipijaknya. “Mengapa kamu berkata begitu?”
  • “Aku berkata begitu karena aku merasakannya. Hubungan ini tidak akan berhasil, Tom. Bagaimana mungkin kamu tidak bisa melihatnya?”
  • “Mungkin memang aku sudah buta.”

Tips kedua! Jika kita menggunakan tanda baca lainnya, maka pengaturannya seperti di bawah ini:
1. Memberi tanda tanya. 
Untuk memberikan tanda tanya pada sebuah dialog, tempatkan tanda tanya sebelum tanda kutip penutup, sebagai pengganti dari tanda titik yang biasanya Anda gunakan. Hal yang patut diwaspadai adalah, walaupun terlihat aneh, Anda harus tetap menggunakan huruf kecil saat menuliskan kata-kata dialog (misalnya, “berkata” atau “menjawab”), karena sebenarnya secara teknis ini masih merupakan bagian dari satu kalimat yang sama. Sebagai alternatif, Anda dapat meletakkan kata-kata yang menunjukkan adanya dialog ini di bagian awal kalimat atau justru tidak menggunakannya sama sekali. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Mengapa kamu tidak datang ke pesta ulang tahunku?” Mary bertanya.
  • Tom menjawab, “Kupikir kita sudah putus. Bukannya kita sudah putus?”
  • “Sejak kapan putus menjadi alasan yang tepat untuk tidak datang ke pesta seseorang?”
  • “Memangnya ada alasan yang lebih tepat lagi?” kata Tom.

2. Memberi tanda seru.
Untuk memberikan tanda seru pada sebuah dialog, lakukan aturan yang sama seperti saat Anda menggunakan tanda titik atau tanda tanya. Kebanyakan penulis akan berkata bahwa tanda seru perlu sangat dihindari, dan bahwa kalimat dan cerita itu sendiri akan menunjukkan semangat tanpa perlu ditambah dengan tanda seru. Namun tetap saja, kadang penggunaan tanda seru tidak ada ruginya. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Aku sudah tak sabar menantikan musim panas berakhir dan kita bisa kembali bersekolah!” kata Mary.
  • “Aku juga!” kata Tom. “Aku sudah bosan sekali di rumah.”
  • Mary menjawab, “Apalagi aku! Aku sudah memiliki tiga jenis koleksi semut dalam sebulan ini saja.”

3. Memberi tanda kutip di dalam dialog. 
Cara ini agak sulit dan tidak akan terlalu sering Anda gunakan, tetapi tetap berguna untuk Anda pelajari. Beri satu tanda kutip saja di awal dan akhir dari suatu frasa yang merupakan judul karya seni atau kutipan dari seseorang. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
  • “Cerita Hemingway yang paling kusukai adalah ‘Hills Like White Elephants,’” Mary berkata.
  • “Bukannya guru Bahasa Inggris kita sering menyebutnya sebagai ‘cerita paling membosankan di seluruh dunia’?” tanya Tom.

NB:
Ingat pedoman penulisan huruf kapital pada dialog, berbeda dengan penulisan kalimat.
Contoh:
  • Dialog: "Apa aku yang bersalah?" tanyaku. 
  • Kalimat: Apa Aku yang bersalah? Pertanyaan ini tidak kunjung terjawab.
  • Dialog: "Kamu jahat!" umpatku.
  • Kalimat: Ya Allah! Pintaku tidaklah banyak.
  • Dialog: "Kamu cantik sekali." Ujarku.
  • Kalimat: Keindahan alam di Pantai Losari sangat memanjakan mata. Ditambah pasirnya yang...
  • Dialog: "Kamu cantik sekali," ujarku.
  • Kalimat: Ah, perempuan tua itu berjalan mendekati Aku.
Sekian dariku. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages - Menu

Life

Berdoa pada Allah. Percaya pada diri sendiri. Hancurkan dan Remukan rintangannya. Tersenyum dengan bangga diakhir perjuangan.