Jumat, 29 Januari 2016

Penulisan Kata Depan, Kata Ganti dan Partikel Sesuai EYD



Dalam penulisan ilmiah ataupun dalam penerjemahan teks formal, pengetahuan akan ejaan yang disempurnakan dan penulisan yang benar sesuai dengan EYD sangat diperlukan.


Dalam penulisan kata depan (dike dan dari), kata ganti (ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya) dan partikel, acapkali kita dibingungkan dengan mana yang harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti atau yang mendahuluinya dan mana yang harus ditulis terpisah.
Berikut adalah sekilas tentang tata cara penulisan kata depan (dike dan dari), kata ganti (ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya) dan partikel yang dikutip dari Pedoman Umum EYD Permen RI Nomor 46 Tahun 2009.
1. Penulisan Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Bermalam sajalah di sini.
Di mana dia sekarang?
Kain itu disimpan di dalam lemari.
Kawan-kawan bekerja di dalam gedung.
Dia berjalan-jalan di luar gedung.
Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Mari kita berangkat ke kantor.
Saya pergi ke sana kemari mencarinya.
Ia datang dari Surabaya kemarin.
Saya tidak tahu dari mana dia berasal.
Cincin itu terbuat dari emas.

Kata-kata yang dicetak miring di dalam kalimat seperti di bawah ini ditulis serangkai.
Misalnya:
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Dia lebih tua daripada saya.
Dia masuk, lalu keluar lagi.
Bawa kemari gambar itu.
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.

Catatan:
Kata di- yang bertindak sebagai imbuhan, ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Contoh: dijual
Imbuhan di- dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia.
Misalnya:
diPHK
di-upgrade

2. Penulisan Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan -nya

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Buku ini boleh kaubaca.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
Rumahnya sedang diperbaiki.
Kata-kata ganti itu (-ku, -mu, dan -nya) dirangkaikan dengan tanda hubung apabila digabung dengan bentuk yang berupa singkatan atau kata yang diawali dengan huruf kapital.
Misalnya:
KTP-mu
SIM-nya
STNK-ku

3. Penulisan Partikel
a. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?

b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
Hendak pulang tengah malam pun sudah ada kendaraan.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika Ayah membaca di teras, Adik pun membaca di tempat itu.

Catatan:
Partikel pun pada gabungan yang lazim dianggap padu ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga, tugas itu akan diselesaikannya.
Baik laki-laki maupun perempuan ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum selesai, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun sederhana, rumah itu tampak asri.

c. Partikel per yang berarti demitiap’, atau mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Mereka masuk ke dalam ruang satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per helai
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.

Kamis, 28 Januari 2016

7 Dosa Penulis Cerpen


1. Ada cerita dalam cerita

Tokoh utama menceritakan tokoh lain. Akibatnya, ada dialog dalam dialog. Parahnya lagi penjelsan tentang tokoh kedua sama detailnya dengan tokoh utama. Hal ini membuat pembaca kebingungan. Sebenarnya siapa pemeran utamanya?


2. Deskripsi yang berlebihan

Penjabaran tentang sebuah latar belakang, keadaan, cuaca yang berlebihan. Ceritanya memang menjadi panjang namun malah tidak nyambung. Hal seperti ini bisa saja membuat pembaca sudah merasa bosan sejak awal cerita

3. Tidak jelas siapa yang bercerita

Diawal menggunakan orang pertama yang bercerita, tiba-tiba ditengah ganti dengan orang ketiga. Hal ini membuat pembaca kebingungan. Seperti yang sudah disampaikan diatas “cara menulis cerpen” tentukan terlebih dahulu siapa yang bercerita, karena ini cerpen yang memiliki waktu dan ruang yang sempit, kamu usahakan fokus pada orang pertama yang bercerita, orang kedua ataupun orang ketiga cukup menjadi bumbu dari cerita yang kamu buat.

4. Terlalu banyak tokoh yang diangkat

Terlalu banyak tokoh yang mau diangkat, akhirnya malah bingung siapa tokoh sebenarnya. Kembali lagi, ini cerpen, usahakan tokoh yang diceritakan didalamnya secukupnya saja, jangan sampai banyak tokoh yang terlibat yang pada akhirnya membuat pembaca kebingungan.

5. Pesan dalam cerpen gagal tersampaikan

Maksud dari cerita yang kamu buat adalah A namun yang pembaca tangkap adalah B. hal ini disebabkan kamu terlalu rumet membuat cerpennya, mungkin tujuan kamu bagus, mengajak pembaca untuk berpikir, nah kalo ternyata pembaca berpikir untuk tidak berpikir bagaimana?

6. Terlalu banyak menggunakan “Majas”

Niatnya mungkin bagus, biar kelihatan sastra, namun hal seperti ini justru banyak membingungkan pembaca. Memang ada sebagian pembaca menyukai kosa kata yang baru, namun perlu kamu ketahui menulis dalam kesederhanaan juga sudah termasuk sastra.

7. Tulisan yang tidak beraturan

Inginnya penulis membuat pembaca menangis ketika sudah sampai adegan klimaks, namun karena tulisannya yang tidak beraturan menjadikan pembaca biasa-biasa saja. Kesannya datar begitu saja. Perbanyak banyak cerpen atau novel, semakin banyak kamu membaca semakin berubah kepenulisanmu.

Sebelum memulai menulis cerpen alangkah baiknya kamu membaca cerpen terlebih dahulu, saran saya beli bukunya jangan baca di internet, karena kalo sudah berhubungan dengan internet niat awal ingin membaca cerpen bisa bercabang kemana-mana, mulailah belajar fokus, saya pribadi lebih baik membeli dari pada membaca online.

Tips:
Baca cerpen itu dua kali. 


  • Pertama kamu sebagai pembaca. Berharap semoga cerpen yang kamu baca bisa memberikan hiburan, melemaskan syaraf, mengasah kepekaan, dan menajamkan otak. 
  • Kedua kamu membaca sebagai penulis. Pastikan sediakan alat yang mendukung, seperti kalau kamu masih suka tulis tangan segera siapkan kertas dan bulpen. Tapi kalau kamu sudah terbiasa dengan laptop, maka sediakan laptop. Periksa kembali kata-kata yang kurang tepat. Trust it! You can do it!

Rabu, 27 Januari 2016

Cerita Tanpa Judul

          Bibirku kelu. Amarah bergojalak dihati. Dibanding melampiaskan, kaki ini lebih memilih runtuh. Mataku enggan melihat pesan itu. Kisah cintaku telah kandas. Senyum manisnya bukan lagi untukku. Ratu hatinya, telah tergantikan.
          "Humaira, maaf. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Dia hanya serpihan masa laluku." katanya setengah putus asa sembari memelukku. Aku terduduk di sudut ruangan. Ruang dimana kami memadu kasih. Kasihku tak pernah lenyap untuknya. Rajaku. Ya Allah, ini semua tidak mungkin. Bangunkan Aku dari mimpi buruk ini. Ya, semua ini hanya mimpi.
          "Sudahlah... Biarkan aku... sendiri." Aku bangkit meninggalkannya. Dengan jalan yang sempoyongan, kaki ini membawaku ke ruang yang lainnya.
          Ruangan calon buah cinta kami. Didominasi biru muda serta hiasan dinding ikan-ikan kecil bernuansa lautan. Semua telah tertata rapi. Tinggal menunggu hari saja pelengkap keluarga ini akan lahir. Kuraih salah satu baju bayi bercorak emas. Pangeran kecilku pasti akan sangat tampan jika mengenakan ini. Detak jantungnya senada denganku, berirama perasaanku. Tidak. Aku tidak boleh lemah. Setidaknya untuk bayi ini. Nyawa yang tidak berdosa sedang berada di dalam kandunganku.
          "Nak. Ibumu adalah orang yang kuat." kataku kepada diriku sendiri seraya menggenggam tekad kuat di tanganku. Aku yakin pasti Dia bisa merasakannya. Tidak akan kubiarkan amarah menguasaiku.
          Kubasuh air wudhu di wajahku. Malam yang sunyi tanpa bintang seolah turut merasakan kesedihanku. Bersimbuh menghadap kuasa, kepala ini Aku tempatkan di kaki-Mu. Takdirku tertulis rapi di buku-Mu. Kupandangi wajah suamiku yang sedang tertidur pulas di ranjang. Ya, Aku tahu ini bukan salahnya atau salah siapapun. Inilah takdir. Namun jika ini takdirku, maka lapangkanlah hatiku untuk menerimanya. La haula wala quwwata illa billah.
+ + +
          Matahari mulai mengepakkan sayapnya mengudara. Para burung juga tidak kalah hebohnya bercanda ria di dahan pohon. Tercium bau embun yang masih membekas di rerumputan. Secangkir kopi dan roti bakar telah kusuguhkan di meja makan.
          "Mas, ini tasmu. Kebiasaanmu memang tidak berubah, ya. Sampai kapan kamu tidak bisa pakai sendiri, cintaku?" ujarku manja sambil membetulkan dasi suamiku. Kuputuskan untuk melupakan kejadian semalam. Biarlah luka ini tertata rapi di hati. Asalkan, keluargaku tetap utuh.
          "Kamu tidak apa-apa, Humaira? Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya seakan tidak percaya. Pasalnya, tidak mudah bagi seorang wanita untuk melupakan rasa sakitnya. Apalagi tangisku benar-benar pecah semalam.
          "Tenang saja. Aku percaya padamu." sahutku sembari Aku mengecup pipinya. Seketika itu juga Dia memelukku.
          "Terima kasih, sayang." suaranya terdengar lirih. Aku tahu, masih ada cinta di hatinya untukku. Matanya, masih tetap milikku.
          Teringat Aku akan kisah cinta Nabi Muhammad dan Aisyah. Tatkala istri-istri Nabi diberi pilihan untuk tetap bersamanya dengan kehidupan sederhana, atau diceraikan dan akan mendapatkan kebahagiaan dunia. Maka Aisyah adalah orang pertama yang menyatakan tetap bersama Nabi Muhammad SAW bagaimanapun kondisi beliau. Sedangkan istri-istri Nabi yang lainnya mengikuti pilihan masing-masing.
          Aku hidup bersamanya, bukan untuk mendapatkan kebahagian dunia. Melainkan menuju surga milik Allah bersama-sama. Hal ini tidak bisa menjadi alasan untuk kami berpisah. Cintaku pada suamiku itu atas izin Allah. Allah yang menjadi saksi pernikahan kami. Perpisahan bukan akhir yang baik. Bukankah perceraian adalah hal yang dibenci oleh Allah? Lantas mengapa kami yang hanya berstatus sebagai hamba melakukan hal yang dibenci-Nya, sedangkan Dia berstatus sebagai Tuhan? Aku tetap di sini. Tetap pada tekad dan pendirianku.
          Ah! Tiba-tiba saja nyeri merasuk saraf-saraf, membuat ngilu seluruh tulangku. Perutku. Oh, tidak! Apa bayi ini akan lahir? Aku berusaha meraih gagang pintu. Kue ulang tahun pernikahan kami yang baru Aku beli di toko depan rumah tadi, kini sudah berserakan di lantai. TOLONG!-pekikku dalam hati.  Tiada sesiapa mendengarku. Rasa sakit ini tidak tertahan lagi, namun Aku harus bertahan. Aku harus kuat. Allah bersamaku. Aku yakin itu.
          Gelap.
          Dimana ini? Setitik cahaya masuk ke dalam pelupuk mataku. Sayup-sayup Aku mendengar suara yang tak asing lagi bagiku. Suamiku. Dengan nada setengah berteriak, seperti sedang berbicara dengan seseorang.
          "Tidak bisa! Selamatkan saja istriku. Biarkan saja bayinya meninggal. Aku mencintainya, Dok!"
          "Walaupun istri anda diselamatkan, tapi kanker rahim itu telah menyebar. Rahim istri anda juga harus di angkat, dan kalian tidak akan bisa memiliki anak lagi."
          "Biarkan saja, Dok. Biarkan saja. Aku mohon. Selamatkan dia untukku. Karena hanya dia satu-satunya bidadariku."
          Apa? Tidak. Ini buah cinta kami. Tidak boleh berakhir begitu saja. Kisah hidupnya masih panjang.
          "Mas!" pekikku memanggilnya.
          "Ah, kamu sudah sadar Humaira? Tadi Mang Maman yang membantuku membawamu ke sini. Apa ada yang sakit? "pertanyaan yang Ia lontarkan, tak Aku hiraukan. Hanya pikiran itu yang ada di benakku.
          "Apa benar itu, Mas? Apa benar yang barusan kalian katakan tadi?!" tanyaku kepada mereka. Suamiku hanya menjawabku dengan tangisan. "Dok, apa itu benar? Ayolah. Jawab aku!" tangisku pecah. Satu lagi, suratan takdir yang tertulis untukku. Ya, tuhan. Cobaan ini tanda sayang-Mu padaku. Namun, salahkah Aku untuk mengeluh? Tiada kata apapun yang dapat terbesit di otakku untuk saat ini.
          "Tenang saja. Kamu akan baik-baik saja, Humaira. Bukankah kamu percaya padaku?"
          "Bagaimana aku bisa percaya padamu? Sedangkan kamu berusaha melenyapkan bayi ini." kataku lirih disela isak tangisku.
          "Aku tidak berusaha melenyapkannya. Hanya saja, aku tak sanggup kehilanganmu. Kisah cinta kita baru saja dimulai."
          "Tapi, ini buah cinta kita, Mas. Darah dagingmu dan juga aku. Aku tak mau kehilangan bayiku."
          "Tapi..."
          "Dok, setelah rahim ini diangkat, berapa presentasi aku bisa selamat?" tanyaku memotong perkataan suamiku.
          "Sekitar 10%. Mengingat kondisi kesehatan dan perkembangan kanker yang sangat cepat, itu kemungkinan yang bisa terjadi." jawab Dokter dengan penuh hati-hati.
          "Mas dengar sendiri, kan? Presentasi aku hidup sangat kecil. Mengapa kamu mau mengorbankan bayi ini, sedangkan nantinya aku juga akan meninggalkanmu."
          "Cukup! Dia bukan Allah. Dia hanya dokter. Kamu tidak akan kemana-kemana. Keputusan ini tidak akan aku ubah." bentaknya sembari pergi meninggalkan ruangan. Aku tahu, rasa putus asa tersirat jelas di raut wajahnya. Namun, Aku harus bisa membujuknya. Demi anakku. Aku tidak mau ini berakhir sia-sia.
          Dibantu kursi roda, Aku menyusuri taman yang tidak jauh dari ruang rawatku. Bunga-bunga mawar bermekaran indah di setiap tangkainya. Wahai sang penguasa waktu, tolong hentikan sejenak menit-menit ini untukku. Perasaan nyaman ini seperti engganku lepas. Subhanallah.
          "Sedang apa di sini, Humaira? Udara di sini dingin. Tidak bagus untukmu." lamunanku pudar ketika terdengar sapaan seseorang yang tak lain adalah Suamiku.
          "Bukankah hari ini adalah tepat dua tahun kita menikah, Mas? Tak adakah bunga mawar yang kamu berikan untukku?"
          "Ah, iya. Aku lupa membelinya." katanya sambil menepuk kepalanya. "Tapi, tak apa. Aku tetap mempunyai satu untukmu." tangannya memetik bunga mawar yang ada di depanku. Dia memang selalu begitu. Hatiku mengaku kalah dengan pesonanya.
          "Mas. Berikan tanganmu." diulurkantangan kanannya dengan cincin yang terlingkar di jari manis. Lalu kuletakkan di atas perutku. Kutuntun Dia untuk meraba. Seketika, terasa tendangan lembut dari dasar kulitku yang ketutupan baju itu. Aku tahu, bayi ini pasti merasakan tangan ayahnya. Tidak bisa dibohongi, kasih sayang terpancar dari bola matanya. Setetes air mata membasahi pipinya.
          "Hah. Seharusnya aku tak boleh menangis." katanya seraya berusaha menghapus air mata. Kuelus wajah suamiku dengan lembut. Wajah orang yang kucintai. Mata ini tidak akan pernah bosan memandangnya.
          "Kamu lihat, Mas? Bahkan dia bisa merasakan kehadiran ayahnya, walau hanya dari belaian tanganmu."
          "Tapi, Humaira... Kehadiranmu di sampingku, sangat berarti bagiku. 10% itu sangat berharga. Masih ada kemungkinan kamu bisa bertahan hidup."
          "Dan 90% juga sangat berarti untuk anak kita agar tetap hidup. Jangan khawatir. Dialah yang mewakilkanku di sampingmu. Hatinya juga milikku. Matanya juga milikku. Jiwanya juga milikku. Akan abadi bersama di dalam hatimu. Takdir Allah yang mempertemukan dan memisahkan kita." tersadar dengan perkataanku, tangis kami berdua pecah. Pelukkan hangatnya membekas di tubuhku.
          Aku mencintai imamku dengan segenap hatiku. Aku juga mencintai anakku dengan segenap jiwa ragaku. Ya. Inilah cinta sesungguhnya. Tidak ada judul untuk memuat kisahku ini. Kisah kami hanyalah milik kami. Milik keluarga kita. Belaian kasihku akan tercurah melalui perantara Ayahmu. Cinta suciku abadi bersama hatimu dan juga Ayahmu. Walau Ibu akui, Dia memang agak sedikit keras kepala. Tapi, hanya Dia satu-satunya lelaki yang bisa mengetuk pintu hatiku.
          "Selamat ulang tahun yang ke-17, Anakku." jika kamu sudah menerima surat ini dari Ayahmu, berarti kamu sudah berumur 17 tahun. Jaga Dia selalu untuk Ibu, seperti Dia menjagamu. Karena kalian mutiara hatiku.
          Ibu. Walau Aku tidak pernah merasakan lembutnya belaian tanganmu dan hangatnya pelukkanmu, namun cinta tulusmu selalu kurasakan di dalam hatiku. Detak jantungku adalah detak jantungmu. Bola mataku mewariskan warna hidupmu. Genggaman jemariku sekuat tekadmu. Cahaya hatiku sesuci cinta kasihmu. Peluk sayangku selalu untukmu. Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah mengirim malaikat sempurna untukku. Sudahkah kamu memeluk malaikatmu hari ini?
(Riau, 27 Januari 2016)

Intermezo:
Namaku L-Fara Cece Lucina. Lahir 19 tahun yang lalu. Tidak banyak yang bisa aku tuliskan. Real story. Hargai Ibu selagi Ia masih ada. Karena tidak semua orang nasibnya beruntung. Semoga bermanfaat dan menghibur semua. Talk Less, Do More. Ingin lebih mengenalku (#promosi)? Follow twitter/instagram: @fcece95. Wassalam.

Sabtu, 23 Januari 2016

Sakura Rindu

Sakura melepaskan sayapnya
Musim semi menyapa
Sekeping ingatan terniang
Kehampaan pun melanda
Perpisahan perih itu
Merindu senyum manis mu
Menghangat dekap sayang mu
Merajuk sepi hatiku
Raga tak lagi bisa bersatu
Sakura melepaskan sayapnya
Saat kelopaknya luruh satu demi satu
Seketika itu pula...
Aku tak bisa berharap kau kembali

Jumat, 22 Januari 2016

Terkadang Keliru


Penulisan ‘di-’ dan ‘ke-’

Pertama,  “di-” sebagai awalan atau imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Kedua, “di” sebagai kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Penggunaan ‘di-’
diantara –> di antara
diakhir –> di akhir
diatas –> di atas
diawal –> di awal
dibagian –> di bagian
dibawah –> di bawah
dibelakang –> di belakang
dibagian –> di bagian
didalam –> di dalam
didekat –> di dekat
dihadapan –> di hadapan
didepan –> di depan
dijalan –> di jalan
dikanan –> di kanan
dikiri –> di kiri
diluar –> di luar
dimana –> di mana
dimuka –> di muka
dipusat –> di pusat
dirumah –> di rumah
disaat –> di saat
disana –> di sana
disebelah –> di sebelah
diseberang –> di seberang
disekeliling –> di sekeliling
disekitar –> di sekitar
diseluruh –> di seluruh
disisi –> di sisi
disini –> di sini
disitu –> di situ
ditanah –> di tanah
ditempat –> di tempat
ditengah –> di tengah
ditengah-tengah –> di tengah-tengah
ditepi –> di tepi
ditiap –> di tiap
ditiap-tiap –> di tiap-tiap
note : tulisan yang bener ada di sebelah kanan. (Urutan di antara)

Ada beberapa yang memiliki arti berbeda juka ditulis terpisah. Dan kata-kata ini khusus untuk kata dasar yang dapat berfungsi sebagai kata benda (penunjuk tempat) sekaligus kata kerja. Berikut contohnya :
Dibalik = bentuk pasif dari Membalik
Di balik = di bagian sebaliknya
Dikarantina = bentuk pasif dari Mengarantina
Di karantina = di (tempat) karantina
Disalib = bentuk pasif dari Menyalib
Di salib = di (atas) salib
dan lain-lain,
Beberapa kata dapat diberi konfiks “di-kan”, misalnya “diseberangkan”, atau konfiks “di-i”, misalnya “diawali”.

Penggunaan ‘ke-’

keatas –> ke atas
kebawah –> ke bawah
kebelakang –> ke belakang
kedalam –> ke dalam
kedepan –> ke depan
kehadapan –> ke hadapan
kekanan –> ke kanan
kekiri –> ke kiri
kemana –> ke mana
kesana –> ke sana
kesamping –> ke samping
ketempat –> ke tempat
note : tulisan yang benar ada di sebelah kanan. (Urutan ke atas)

Sedangkan untuk penulisan ‘ke-’ yang digabung dengan kata lain adalah
kepada, kemari, dan keluar (sebagai lawan kata “masuk”, untuk lawan kata “ke dalam”, penulisan harus dipisah, “ke luar”).
“kemeja” (baju), yang artinya berbeda dari “ke meja”
Untuk menunjuk pada suatu bilangan ordinal, gunakan awalan ‘ke-’ (kedua anak ini, kelima buku itu)
Untuk menunjuk pada suatu bilangan kardinal, gunakan kata depan ‘ke’ (anak ke-2, buku ke-5)
Beberapa kata dapat diberi konfiks “dike-kan”, misalnya “depan”->”dikedepankan”, “mana”->”dikemanakan”, “samping”->”dikesampingkan”, atau konfiks “ke-an”, misalnya “dalam”->”kedalam, kedalaman”
***

Singkatnya penggunaan ‘di-‘ dan ‘ke-‘ dapat dilihat dari penggunaan konteks kata. Jika kata setelahnya menunjukkan tempat, maka penggunaan penggunaan ‘di-‘ dan ‘ke-‘ dipisah.
Okeeeyy, mungkin itu saja yaang bisa aku share ke kalian semua, kalau masih ada yang bingung atau pun masih ada pertanyaan. Kalian bisa tanya lewat kotak komentar di bawah ini dan jika aku bisa menjawabnya insyaAllah akan aku jawab semampuku ^^
So, happy writing guys!
https://choisiwonlusyworld.wordpress.com/lets-learn/writing-tutorial/penulisan-di-dan-ke/

Pages - Menu

Life

Berdoa pada Allah. Percaya pada diri sendiri. Hancurkan dan Remukan rintangannya. Tersenyum dengan bangga diakhir perjuangan.