"Humaira, maaf. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Dia hanya serpihan masa laluku." katanya setengah putus asa sembari memelukku. Aku terduduk di sudut ruangan. Ruang dimana kami memadu kasih. Kasihku tak pernah lenyap untuknya. Rajaku. Ya Allah, ini semua tidak mungkin. Bangunkan Aku dari mimpi buruk ini. Ya, semua ini hanya mimpi.
"Sudahlah... Biarkan aku... sendiri." Aku bangkit meninggalkannya. Dengan jalan yang sempoyongan, kaki ini membawaku ke ruang yang lainnya.
Ruangan calon buah cinta kami. Didominasi biru muda serta hiasan dinding ikan-ikan kecil bernuansa lautan. Semua telah tertata rapi. Tinggal menunggu hari saja pelengkap keluarga ini akan lahir. Kuraih salah satu baju bayi bercorak emas. Pangeran kecilku pasti akan sangat tampan jika mengenakan ini. Detak jantungnya senada denganku, berirama perasaanku. Tidak. Aku tidak boleh lemah. Setidaknya untuk bayi ini. Nyawa yang tidak berdosa sedang berada di dalam kandunganku.
"Nak. Ibumu adalah orang yang kuat." kataku kepada diriku sendiri seraya menggenggam tekad kuat di tanganku. Aku yakin pasti Dia bisa merasakannya. Tidak akan kubiarkan amarah menguasaiku.
Kubasuh air wudhu di wajahku. Malam yang sunyi tanpa bintang seolah turut merasakan kesedihanku. Bersimbuh menghadap kuasa, kepala ini Aku tempatkan di kaki-Mu. Takdirku tertulis rapi di buku-Mu. Kupandangi wajah suamiku yang sedang tertidur pulas di ranjang. Ya, Aku tahu ini bukan salahnya atau salah siapapun. Inilah takdir. Namun jika ini takdirku, maka lapangkanlah hatiku untuk menerimanya. La haula wala quwwata illa billah.
+ + +
Matahari mulai mengepakkan sayapnya mengudara. Para burung juga tidak kalah hebohnya bercanda ria di dahan pohon. Tercium bau embun yang masih membekas di rerumputan. Secangkir kopi dan roti bakar telah kusuguhkan di meja makan."Mas, ini tasmu. Kebiasaanmu memang tidak berubah, ya. Sampai kapan kamu tidak bisa pakai sendiri, cintaku?" ujarku manja sambil membetulkan dasi suamiku. Kuputuskan untuk melupakan kejadian semalam. Biarlah luka ini tertata rapi di hati. Asalkan, keluargaku tetap utuh.
"Kamu tidak apa-apa, Humaira? Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya seakan tidak percaya. Pasalnya, tidak mudah bagi seorang wanita untuk melupakan rasa sakitnya. Apalagi tangisku benar-benar pecah semalam.
"Tenang saja. Aku percaya padamu." sahutku sembari Aku mengecup pipinya. Seketika itu juga Dia memelukku.
"Terima kasih, sayang." suaranya terdengar lirih. Aku tahu, masih ada cinta di hatinya untukku. Matanya, masih tetap milikku.
Teringat Aku akan kisah cinta Nabi Muhammad dan Aisyah. Tatkala istri-istri Nabi diberi pilihan untuk tetap bersamanya dengan kehidupan sederhana, atau diceraikan dan akan mendapatkan kebahagiaan dunia. Maka Aisyah adalah orang pertama yang menyatakan tetap bersama Nabi Muhammad SAW bagaimanapun kondisi beliau. Sedangkan istri-istri Nabi yang lainnya mengikuti pilihan masing-masing.
Aku hidup bersamanya, bukan untuk mendapatkan kebahagian dunia. Melainkan menuju surga milik Allah bersama-sama. Hal ini tidak bisa menjadi alasan untuk kami berpisah. Cintaku pada suamiku itu atas izin Allah. Allah yang menjadi saksi pernikahan kami. Perpisahan bukan akhir yang baik. Bukankah perceraian adalah hal yang dibenci oleh Allah? Lantas mengapa kami yang hanya berstatus sebagai hamba melakukan hal yang dibenci-Nya, sedangkan Dia berstatus sebagai Tuhan? Aku tetap di sini. Tetap pada tekad dan pendirianku.
Ah! Tiba-tiba saja nyeri merasuk saraf-saraf, membuat ngilu seluruh tulangku. Perutku. Oh, tidak! Apa bayi ini akan lahir? Aku berusaha meraih gagang pintu. Kue ulang tahun pernikahan kami yang baru Aku beli di toko depan rumah tadi, kini sudah berserakan di lantai. TOLONG!-pekikku dalam hati. Tiada sesiapa mendengarku. Rasa sakit ini tidak tertahan lagi, namun Aku harus bertahan. Aku harus kuat. Allah bersamaku. Aku yakin itu.
Gelap.
Dimana ini? Setitik cahaya masuk ke dalam pelupuk mataku. Sayup-sayup Aku mendengar suara yang tak asing lagi bagiku. Suamiku. Dengan nada setengah berteriak, seperti sedang berbicara dengan seseorang.
"Tidak bisa! Selamatkan saja istriku. Biarkan saja bayinya meninggal. Aku mencintainya, Dok!"
"Walaupun istri anda diselamatkan, tapi kanker rahim itu telah menyebar. Rahim istri anda juga harus di angkat, dan kalian tidak akan bisa memiliki anak lagi."
"Biarkan saja, Dok. Biarkan saja. Aku mohon. Selamatkan dia untukku. Karena hanya dia satu-satunya bidadariku."
Apa? Tidak. Ini buah cinta kami. Tidak boleh berakhir begitu saja. Kisah hidupnya masih panjang.
"Mas!" pekikku memanggilnya.
"Ah, kamu sudah sadar Humaira? Tadi Mang Maman yang membantuku membawamu ke sini. Apa ada yang sakit? "pertanyaan yang Ia lontarkan, tak Aku hiraukan. Hanya pikiran itu yang ada di benakku.
"Apa benar itu, Mas? Apa benar yang barusan kalian katakan tadi?!" tanyaku kepada mereka. Suamiku hanya menjawabku dengan tangisan. "Dok, apa itu benar? Ayolah. Jawab aku!" tangisku pecah. Satu lagi, suratan takdir yang tertulis untukku. Ya, tuhan. Cobaan ini tanda sayang-Mu padaku. Namun, salahkah Aku untuk mengeluh? Tiada kata apapun yang dapat terbesit di otakku untuk saat ini.
"Tenang saja. Kamu akan baik-baik saja, Humaira. Bukankah kamu percaya padaku?"
"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Sedangkan kamu berusaha melenyapkan bayi ini." kataku lirih disela isak tangisku.
"Aku tidak berusaha melenyapkannya. Hanya saja, aku tak sanggup kehilanganmu. Kisah cinta kita baru saja dimulai."
"Tapi, ini buah cinta kita, Mas. Darah dagingmu dan juga aku. Aku tak mau kehilangan bayiku."
"Tapi..."
"Dok, setelah rahim ini diangkat, berapa presentasi aku bisa selamat?" tanyaku memotong perkataan suamiku.
"Sekitar 10%. Mengingat kondisi kesehatan dan perkembangan kanker yang sangat cepat, itu kemungkinan yang bisa terjadi." jawab Dokter dengan penuh hati-hati.
"Mas dengar sendiri, kan? Presentasi aku hidup sangat kecil. Mengapa kamu mau mengorbankan bayi ini, sedangkan nantinya aku juga akan meninggalkanmu."
"Cukup! Dia bukan Allah. Dia hanya dokter. Kamu tidak akan kemana-kemana. Keputusan ini tidak akan aku ubah." bentaknya sembari pergi meninggalkan ruangan. Aku tahu, rasa putus asa tersirat jelas di raut wajahnya. Namun, Aku harus bisa membujuknya. Demi anakku. Aku tidak mau ini berakhir sia-sia.
Dibantu kursi roda, Aku menyusuri taman yang tidak jauh dari ruang rawatku. Bunga-bunga mawar bermekaran indah di setiap tangkainya. Wahai sang penguasa waktu, tolong hentikan sejenak menit-menit ini untukku. Perasaan nyaman ini seperti engganku lepas. Subhanallah.
"Sedang apa di sini, Humaira? Udara di sini dingin. Tidak bagus untukmu." lamunanku pudar ketika terdengar sapaan seseorang yang tak lain adalah Suamiku.
"Bukankah hari ini adalah tepat dua tahun kita menikah, Mas? Tak adakah bunga mawar yang kamu berikan untukku?"
"Ah, iya. Aku lupa membelinya." katanya sambil menepuk kepalanya. "Tapi, tak apa. Aku tetap mempunyai satu untukmu." tangannya memetik bunga mawar yang ada di depanku. Dia memang selalu begitu. Hatiku mengaku kalah dengan pesonanya.
"Mas. Berikan tanganmu." diulurkantangan kanannya dengan cincin yang terlingkar di jari manis. Lalu kuletakkan di atas perutku. Kutuntun Dia untuk meraba. Seketika, terasa tendangan lembut dari dasar kulitku yang ketutupan baju itu. Aku tahu, bayi ini pasti merasakan tangan ayahnya. Tidak bisa dibohongi, kasih sayang terpancar dari bola matanya. Setetes air mata membasahi pipinya.
"Hah. Seharusnya aku tak boleh menangis." katanya seraya berusaha menghapus air mata. Kuelus wajah suamiku dengan lembut. Wajah orang yang kucintai. Mata ini tidak akan pernah bosan memandangnya.
"Kamu lihat, Mas? Bahkan dia bisa merasakan kehadiran ayahnya, walau hanya dari belaian tanganmu."
"Tapi, Humaira... Kehadiranmu di sampingku, sangat berarti bagiku. 10% itu sangat berharga. Masih ada kemungkinan kamu bisa bertahan hidup."
"Dan 90% juga sangat berarti untuk anak kita agar tetap hidup. Jangan khawatir. Dialah yang mewakilkanku di sampingmu. Hatinya juga milikku. Matanya juga milikku. Jiwanya juga milikku. Akan abadi bersama di dalam hatimu. Takdir Allah yang mempertemukan dan memisahkan kita." tersadar dengan perkataanku, tangis kami berdua pecah. Pelukkan hangatnya membekas di tubuhku.
Aku mencintai imamku dengan segenap hatiku. Aku juga mencintai anakku dengan segenap jiwa ragaku. Ya. Inilah cinta sesungguhnya. Tidak ada judul untuk memuat kisahku ini. Kisah kami hanyalah milik kami. Milik keluarga kita. Belaian kasihku akan tercurah melalui perantara Ayahmu. Cinta suciku abadi bersama hatimu dan juga Ayahmu. Walau Ibu akui, Dia memang agak sedikit keras kepala. Tapi, hanya Dia satu-satunya lelaki yang bisa mengetuk pintu hatiku.
"Selamat ulang tahun yang ke-17, Anakku." jika kamu sudah menerima surat ini dari Ayahmu, berarti kamu sudah berumur 17 tahun. Jaga Dia selalu untuk Ibu, seperti Dia menjagamu. Karena kalian mutiara hatiku.
Ibu. Walau Aku tidak pernah merasakan lembutnya belaian tanganmu dan hangatnya pelukkanmu, namun cinta tulusmu selalu kurasakan di dalam hatiku. Detak jantungku adalah detak jantungmu. Bola mataku mewariskan warna hidupmu. Genggaman jemariku sekuat tekadmu. Cahaya hatiku sesuci cinta kasihmu. Peluk sayangku selalu untukmu. Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah mengirim malaikat sempurna untukku. Sudahkah kamu memeluk malaikatmu hari ini?
(Riau, 27 Januari 2016)
Intermezo:
Namaku L-Fara Cece Lucina. Lahir 19 tahun yang lalu. Tidak banyak yang bisa aku tuliskan. Real story. Hargai Ibu selagi Ia masih ada. Karena tidak semua orang nasibnya beruntung. Semoga bermanfaat dan menghibur semua. Talk Less, Do More. Ingin lebih mengenalku (#promosi)? Follow twitter/instagram: @fcece95. Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar